Sabtu, 08 Mei 2010

Yellow


CERPEN



YELLOW

Di sudut jalan rumahku, aku selalu bertemu setiap pagi dengan pembawa tas kuning cerah. Tak terasa sudah tiga hari aku melihat laki-laki tersebut jalan dari arah berlawanan.

Aku suka melihat gaya jalannya yang gagah, dan menyukai warna kuning cerah dari tasnya. Entah mengapa hatiku merasa bergetar jika aku bertemu dengannya. Apakah ini cinta?

Di suatu pagi, setelah aku berjalan menuju sudut jalan, ia tak nampak rupanya. Aku menjadi berpikir berkali-kali,

Mengapa ia tak kunjung datang?

Apakah ia sudah pindah rute jalan untuk menuju ke sekolahnya?

Ada apa di sudut jalan itu hingga aku harus berhenti dan menunggu? Hingga membuat aku selalu mengharapkan kehadirannya. Dan selama berhari-hari aku tetap menunggu, tetapi laki-laki itu tidak kunjung datang.

Akhirnya di suatu hari, aku pun tidak mengharapkan kembali kedatangannya.

***

Keesokan harinya, pada saat aku duduk di bus. Tiba-tiba saja, aku melihat seseorang di samping bus ku yang sedang terhenti pada saat lampu merah di dekat sudut jalan.

Mataku menemukan laki-laki itu sedang menaiki sepeda roda dua tepat di samping bus ku. Rupanya ia mengendarai sepeda untuk sampai ke sekolahnya.

Hatiku serasa bergetar kembali setelah aku bertemu dengannya. Ia tetap sama dengan tas kuning cerah yang di gendongnya. Tak ada yang berubah darinya. Bus ku pun jalan dan ia pun tenggelam jauh dari mataku.

Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengan laki-laki itu sedang mengendarai sepeda yang sama.

Setelah itu, hari-hariku rutin dengan melihat ia lewat di dekat sudut jalan itu. Rasanya aku ingin sekali menyapanya dan berkenalan dengannya.

Melihatnya tiap pagi sudah menjadi rutinitasku setiap pagi hingga kuceritakan kepada temanku bahwa aku sedang menyukai seseorang, tetapi aku tidak mengenalnya.

Temanku hanya tertawa begitu mendengar ceritaku.

Katanya kepadaku, “Haha! Bagaimana kamu bisa suka dengannya sedangkan kamu saja tidak tahu namanya?”

Lalu ia pun tertawa kembali.

Sakit hatiku ditertawakan oleh temanku hanya karena aku menyukai seorang laki-laki yang aku sama sekali tidak tahu identitasnya. Aku jadi berpikir bagaimana jika ia menjadi aku, mungkin ia baru mengerti rasa ini, kata hatiku.

Ia tak nampak untuk pertama kalinya setelah bertemu lagi denganku. Ada apa ini? Apakah karena hari ini hujan?

Memang hujan nampaknya tidak dapat memberikan toleransi dengan apa yang ada di bawahnya. Aku saja sudah basah kuyup karena aku harus menunggu di sudut jalan hingga bus ku datang.

Mataku terus mencari, tetapi aku tidak menemukan sosoknya itu di jalanan. Aku menduduki bangku ku dengan lemas. Setelah itu bus pun terhenti sebentar, ternyata ada penumpang lainya yang ingin naik ke busku.

Segerombolan siswa SMA yang seragamnya sama dengan laki-laki itu. Dan ternyata benar! Aku pun melihat laki-laki itu sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya itu.

Aku pun kembali duduk dengan tegak dan tegang.

Setelah beberapa menit berlalu, bus pun terhenti dan ternyata segerombolan siswa SMA tersebut akan turun di pemberhentian berikutnya. Aku kecewa karena tidak dapat memandangi laki-laki tersebut. Tetapi pada saat laki-laki itu turun, ia melihatku sebentar dan turun.

Jantungku berdebar keras.

***

Aku baru tahu jika laki-laki itu naik bus hanya pada saat hujan turun. Aku pun menjadi sering untuk memohon kepada Tuhan agar hujan pun turun supaya laki-laki tersebut naik bus yang sama denganku.

Permohonanku pun dikabulkan oleh Tuhan. Hujan kembali turun deras. Dan ternyata benar, laki-laki itu pun naik busku kembali untuk ke dua kalinya.

Aku sangat senang sekali.

Selama beberapa menit aku berpikir aku harus berkenalan dengannya. Harus!

Aku pun mulai pindah tempat dudukku ke depan dekat sopir bus yang aku kendarai. Aku mulai mencari perhatian dengan menanyakan kegiatan hari ini apa saja kepada pak sopir langgananku. Pak sopir pun hanya menjawab kata iya dan tidak saja dari berbagai pertanyaanku.

Tiba-tiba saja laki-laki itu menyauti pertanyaanku yang tidak dijawab oleh pak sopir. Bayangkan bagaimana rasanya hatiku saat itu. Senang? Sedih? Pastinya senang sekali karena tak terbayangkan akan berbicara dengannya, walau hanya sekali saja.

Selanjutnya ia mengenalkan diri.

“Nama saya…”, kata laki-laki yang membawa tas kuning cerah.

Hatiku berdegup kencang sekali saat itu.

“Ales”, katanya. “Kalau kamu?”

“Rina”, kataku.

Lalu ia menanyakan kenapa saya menggunakan pakaian bebas?

Saya pun menjawabnya, “Ia, karena saya seorang mahasiswa.”

“Ohh..”, katanya.

“Ia, saya seorang mahasiswa di universitas multimedia nusantara. Kalau kamu?”

“Saya seorang siswa SMA Harapan Kita”, katanya sambil menunjukan tempat pemberhentian bus berikutnya.

Tanda perpisahan akan datang. Saya pun langsung bergegas untuk meminta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Lalu ia turun dan mengucapkan salam perpisahan kepadaku.

***

Apa yang terjadi barusan? Aku berkenalan dengannya setelah beberapa hari aku hanya melihatnya dari kejauhan saja. Aku tidak percaya dengan keadaan barusan.

Maka dari itu aku mengambil tindakan untuk segera mengetik SMS pendek, hanya sebuah ucapan salam pagi yang hangat untuk ungkapan pertama kali perkenalan.

“ting tung ting tung…”, hpku berbunyi. Aku segera melihatnya, dan membuka SMS tersebut. Ternyata dari Ales! Segera ku buka SMS itu dan isinya pun ucapan pembalasan dari salam pagi ku.

Hingga SMS-an kami pun berlanjut terus menerus hingga akhirnya kami pun menjadi dekat. Kadang ia suka bercurhat mengenai dirinya, entah itu keluarganya maupun kucingnya.

Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya adalah seorang pengusaha di negeri sebelah. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Lalu ia mempunyai dua kakak yang sudah menikah. Dan terakhir adik laki-lakinya yang masih kecil.

Kucingnya bernama Mimi. Aku kebetulan sangat suka sekali dengan kucing. Ales sering mengajakku untuk melihat kucing yang memiliki bulu kuning emas itu.

***

Di bulan September, aku kehujanan pada saat aku berdiri di sudut jalan. Dari sebelah sana yang jauh, mulai terlihat sosok Ales yang sedang berlarian. Tas kuningnya basah hingga terdapat bercak-bercak kotoran lumpur yang ia injak.

Ia datang menghampiriku dan memberikan surat undangan tunangan.

Betapa kagetnya aku mendapatkan undangan tunangan darinya. Aku kecewa ternyata dugaanku benar. Ales sudah mempunyai pacar. Aku lemas ketika ia pergi lari kembali.

Keesokan harinya, aku tidak masuk ke kampus karena sakit. Ales pun menanyakan kenapa aku tidak terlihat hari ini di sudut jalan, lewat SMS yang ia kirim. Aku pun menjawab bahwa aku sedang demam.

Mungkin demamku ini karena hujan-hujanan kemarin.

Surat itu pun hanya kuletakan di atas meja belajarku karena aku takut untuk membukanya.

“Apa yang sudah kulakukan selama ini?” pikirku.

Ternyata semua perbuatanku hanya sia-sia belaka saja.

***

Satu minggu kemudian…

Ales menanyakan apa aku bisa datang ke acara tersebut. Aku bingung sekali, aku harus menjawab apa? Apa aku harus bohong?

Akhirnya pun aku menolak dengan mengatakan aku ada acara keluarga pada hari itu.

Satu hari sebelum acara tersebut, aku mendapatkan sebuah kotak. Kotak itu tidak ada nama pengirimnya. Aku pun menjadi heran. Kotak itu hanya diletakan di depan rumahku. Entah dari sapa itu, yang jelas isinya sangat mengejutkanku.

Ya, isinya adalah gaun baju yang indah. Gaun itu berwarna kuning seperti warna yang aku suka dengan bunga mawar merah di dalamnya.

Dari siapakah itu? semalaman aku berpikir siapa yang telah memberikan aku gaun seindah itu. Hingga malamku berakhir dengan mimpi buruk.

***

Keesokan harinya, ting tong suara bel rumahku berbunyi. Pada saat aku membuka pintu, aku terkejut dengan orang yang datang ke rumahku saat itu. Ales!

Astaga aku harus mengatakan alasan apa karena aku telah berbohong padanya.

Ales berkata, ”Hi!”

“M….mmhmm…Hi juga Les!”

“Kok masih di rumah? Katanya mau pergi?”

“I..iya ni, hehe aku ga jadi pergi. Ada apa ni Les? Kok tumben ke rumah?” kataku.

“Iya, aku datang mau ajak kamu pergi ke acara itu”, kata Ales.

Dalam hatiku “acara itu?”

“Acara yang mana ya?” kataku.

“Yang kemarin aku kasih undangannya itu loh. Itu acara tunangannya mantanku. Temenin aku yuk?”

“Astaga! Mantan?!” kata hatiku. Ternyata dugaanku selama ini salah. Aku harus meminta maaf padanya.

Kataku kepadanya, “A…les, maaf ya karena aku telah berpikir macam-macam mengenai undangan itu….”

“Loh kenapa?” kata ales.

“Iya, aku pikir itu undangan pertunanganmu dengan pacar kamu”, kataku.

“Aduh bukan Rina, itu undangan tunangan mantanku, bukan aku. Aku belum punya pacar sekarang”, kata ales.

“Ohh, Maaf ya Les. Kupikir itu…”

Ales pun berkata, “Uda, ga usa dipikirin lagi. Sekarang siap-siap yu?”

“Tapi aku ga punya gaun bagus untuk pergi ke acara itu”, kataku.

“Gaun yang kemarin aku kasih mana?” kata Ales.

“Gaun itu darimu?!” kataku sambil terkejut.

“Iya itu dariku, seperti katamu, kamu menyukai warna kuning dan kamu menyukai tas kuningku”, kata Ales sambil tersenyum. “Dan aku sepertinya mulai menyukaimu rina.”

Deg deg deg…

Kisah ini dimulai dari tas Ales yang berwarna kuning dan berakhir di gaun Rina yang berwarna kuning pula.

CINTA itu ibaratnya seperti noda kuning yang sulit untuk dihapus walaupun sudah disikat berkali-kali. Jadi jangan remehkan CINTA itu!

by: Rina Meilisa

Jakarta, 19oktober2009

0 komentar:

Posting Komentar